..iPod oh iPod..
"..Ya, lo kalo mau beli MP3 player, beli iPod deh…itu MP3 populer nomer satu sekarang di Amerika…", gitu katanya skitar jam 3 sore di hotel atlit Century Park, tepatnya di kamar 206 di tahun 2003. Waktu itu kita masih sama2 TC (Training Center) Pelatda buat PON XIV di Palembang.
"Hah, iPod? Apaan tu?" Dalem hatiku bertanya. Waktu itu belom banyak orang yang tau mahluk apakah iPod itu. Dan gaji bulanan dari kontingen yang kubela saat itu, sebagian sudah kusisihkan demi sebuah MP3 player baru..yang kuidam2kan, yaitu keluaran Samsung. Aku pikir, ah, mana ada yg lebih ‘cool’ dari Samsung yang udh ku-’booking’ tersebut…tapi, hey…jangan salah. Let me introduce you: TARA ~kakakku satu2nya, si perfectionist ini kalo ngomong ga pernah sembarangan, dan dya tau betul barang2 kualitas nomer satu dunia, apalagi kalo udah berhubungan dengan dunia desain.
10 menit jalan kaki aja akhirnya yang menutup awal pembicaraan soal MP3 player tadi, menuju ke sebuah pusat perbelanjaan elektronik di seputaran jalan Sudirman - Jakarta, Ratu Plaza.
Itulah perkenalanku pertama kali dengan satu benda yang bernama iPod ini.
iPod pertamaku, berwarna putih…sangat mulus, belum berwarna, belum ber-video, apalagi sampe ber-touch screen kayak iPod generasi terakhir yang beredar sekarang. Tebelnya kira2 15mm aja. Model click wheel-nya yang berbasis ‘body touch’ dengan 4 buah tombol kecil di bagian atas click wheel tersebut bikin si iPod enak banget diliatin..belom lagi ditambah sama Docking yang sekarang udah ngga lagi dijadiin aksesoris fungsional iPod. Dengan kemampuan menyimpan memory yang ‘hampir’ 20 GB, kupikir benda ini sudah berukuran cukup kecil (untuk saat itu) dengan desain sempurna dan sangat luar biasa.
He was so DAMN right!
So then it became one of the most amazing things I’ve ever had in my life…
Sebenarnya, iPod tersebut bukan MP3 player pertama yang pernah ada di genggaman tanganku yang selalu menyertai ‘perjalanan’ ku kala itu. MPman F20 yang merupakan MP3 player pertama di dunia, lebih dulu ada di kantong celana atau kemeja yang kupakai sehari2 jaman kuliah di ITB, sebelum si iPod ini jadi milikku. Benda yang lagi2 menakjubkan buatku saat itu merupakan pemberian seorang sahabat yang kini telah menghilang entah kemana. Kini ‘mereka’ jadi satu paket yang tidak mungkin terlupa bagiku…
Awal perkenalanku dengan iPod kemudianlah yang berhujung pada kondisi ‘kecanduan’ akan benda ini, dan pengen milikin semua produk keluaran si Apple nan menakjubkan ini. Bonus uang yang kutrima setelah memenangkan beberapa nomor di PON Palembang tahun 2004 kemudian kubelikan notebook pertamaku yang adalah -lagi2- product si Apple, yaitu MacBook Pro 15" yang saat itu adalah produk keluaran Apple tercanggih untuk notebooknya. Warna silver nge-doff dengan desain yang -lagi2- sangat sempurna untuk mataku (bahkan sampai sekarang sekalipun, I still think the same way about it)…dan belom lagi waktu ku-ulik fungsinya..satu kata: it’s UNIMAGINABLE. How come people invented such things like this??
Sekitar 5 tahun setelah perkenalan pertamaku dengan iPod, dan setelah kuganti iPod 2nd Generation-ku tersebut dengan iPod yang lebih ‘beradab’ ~berwarna, dengan layar yang agak sedikit lebih lebar, bervideo, dan bisa taruh foto~ tersebut akhirnya kandas karena kubanting.. *hehe, jangan tanya kenapa ya, Nyet :D
Sedih rasanya..ketika tahu benda tersebut ternyata ngga bisa berfungsi lagi. Huwaaa…
Setelah 5 tahun selalu ada iPod yang nemenin kemana2, belum lagi ditambah si MPman yang nemenin lebih dari 2 tahun..rasanya jadi kosong aja hari2. Dan akhirnya aku baru nyadar, kalo life without music is soooooo damn boring…and so hollow.
I waited for quite sometime to take it to Apple center yang berada di Feng Chia -sebuah areal yang lebih terkenal dengan nite marketnya ketimbang universitasnya di Taichung city, to be able fix it. Well, "..it’s all about the money, it’s all about the dum dum duh dee dum dum.." persis banget sama lirik lagunya MEJA, yang dirilis tahun ‘99-an kalo ngga salah. Yup, selain posisi si-Feng Chia -yang jauh aje-, ngandelin scholarship yang masuk rekening tiap bulan ternyata ga cukup buat langsung dipake gitu aja untuk benerin si iPod-ku sayang iPod-ku malang ini..belum lagi kala itu lagi ribet2nya waktu habis untuk selesain tesis.
HUH…
…
..
"Hello, may I speak with Tya please?" Setelah kujawab, suara tadi berlanjut, "..yes, mm, we are from Apple center and want to tell you that your iPod is ready now". Waktu itu hari Sabtu sore, dan posisiku sedang berada di Sun Moon Lake..di Nantou county..bersepeda sejauh 60 km, demi untuk menonton -salah satu ambisi terbesarku selama hidup- yaitu TRIATHLON.
Lebih dari satu minggu kemudian, kusodorkan bon perbaikan iPodku pada seorang petugas di Apple center. Dengan bahasa Inggris kaku dya bilang, "..wait the moment please.." Tidak berapa lama menunggu, orang tadi keluar dengan iPod di genggaman tangannya -yang waktu itu kupikir adalah iPod lamaku yang udah aga butut karena banyak baret dan goresan pada layarnya… tanpa ada pembicaraan apapun orang tadi langsung buka pembungkus plastik iPod yang baru aja dya bawa keluar tersebut. Ahah..masih tampak kurang jelas bagiku krn ternyata masih ada pelapis plastik lagi di bagian dalamnya, yang ternyata adalah SEGEL.. hahahh…beneran, segel..persis banget waktu aku beli iPod tersebut untuk pertama kalinya!!
Kusodorkan sejumlah uang…dan…dan..betapa senangnya hatiku… dengan bayar ngga sampe sepertiga harga iPod asliku, aku skrg punya iPod lamaku, yang kembali BARU! Kalo dipikir2, jahatnya pikiranku ini…tapi aku merasa lebih puas setelah sempet banting iPod-ku, dan merasa semua kekesalanku saat itu terlampiaskan..untuk kemudian bisa dapet iPod ‘baru’ku ini.
Well, everything has its price, and for me I think it’s worthed to pay…
*Laen kali kalo kesel jangan pake banting2 iPod ya, neng.
October 23rd, 2008 at 4:22 pm
Интересней не бывает.